• sefryanakhairil

#TTCJourney: Spontaneous Abortion

Januari-Maret 2019




Setelah mengalami chemical pregnancy kedua kalinya, saya dan suami benar-benar rehat program hamil. Kami menikmati masa-masa berdua dengan jalan-jalan ke Puncak sekalian mengikuti kajian Ustaz Subhan Bawazier juga mengelilingi Jakarta untuk melepas penat. Alhamdulillah wa syukurillah untuk nikmat Allah buat kami.


Memasuki tahun 2019, tetangga yang sudah 10 tahun menikah, memberi kabar kalau dia hamil. Masya Allah. Dia rutin melakukan urut rahim setiap bulan di daerah Bekasi dan minum ramuan air kelapa.


Saya pernah melakukan urut rahim di rumah mertua, tapi belum dapat izin Allah memiliki keturunan lewat ikhtiar itu. Dan belum ada keinginan untuk urut lagi, jadi saya tidak ingin mengikuti cara tetangga saya. Tapi lewat berita itu, saya memiliki keyakinan dan semangat besar bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.


Lalu sepupu saya, Andien, juga memberi kabar kalau dia hamil setelah enam tahun menikah. Masya Allah. Andien dan suami mengonsumsi lemon peras setiap hari yang dijual SehatHerbs. Niatnya bukan untuk promil pada awalnya, melainkan untuk menurunkan kolestrol. Tapi Allah menjawab doa Andien dan suami lewat ikhtiar itu.


Semangat positif itu datang lagi. Allah pasti memberikan saya keturunan. Pasti. Hanya saya dan suami perlu menunggu kapan Allah akan menjawab doa itu.


Februari saya mengalami ISK yang mengharuskan saya bedrest total. Suami juga mengalami gejala tipus. Untuk melancarkan peredaran darah, kami diurut oleh Bu De, tukang urut langganan. Alhamdulillah setelah itu ISK saya membaik dan menstruasi saya lebih lancar. Suami pun lebih baik.


Mei 2019


“Ri, nanti di arisan gue mau bawain SehatHerbs ya,” begitu kata Andien. SehatHerbs adalah usaha milik Mbak Herfita dan Mbak Herfika, kakak dan adik dari artis Herfiza. Minuman ini dibuat dari godokan jahe, kunyit, gula palem, garam himalaya, dan asam jawa—bedasarkan Jurus Sehat Rasulullah racikan dokter Zaidul Akbar. Rasanya segar.



Setelah rutin konsumsi SehatHerbs ini, saya terlambat haid. Puasa saya hampir full di Ramadan ini, tetapi testpack saya selalu negatif. Bingung dan takut. Iya, takut kalau saya kenapa-kenapa.


Di akhir Ramadan, saya iseng testpack setelah diingatkan oleh Mama belum mens selama tiga minggu. Hasilnya… samar! Masya Allah.



Saya cuekin dulu satu hari itu. Namun, keesokan harinya saya flek coklat banyak di kantor. Langsung suami mengantar ke dokter Icksan.


“Belum ada kantung nih, Pak,” kata dokter Icksan sambil memperlihatkan layar USG ke suami.


Chemical pregnancy lagi, dok?” Suami bertanya dengan nada khawatir.


”Bisa jadi, iya. Kita luruhkan saja ya? Saya beri obat peluruh.” Dokter Icksan pun selesai melakukan USG dan menulis resep.


Pulang dari dokter, di mobil, saya dan suami kembali menangis. Suami memeluk saya erat sekali. Tidak banyak kata-kata saat itu.


***


Rasa penasaran saya belum hilang, benar hamil atau tidak. Saya mau memastikan dulu sebelum minum peluruh. Apa testpack yang saya gunakan salah? Akhirnya saya beli testpack digital untuk memastikan.


Hasilnya saya… hamil! Masya Allah. Tabarakallah. Saya berbinar-binar. Tapi kenapa darah dan flek terus keluar ya? Saya curhat ke sahabat saya, Syera. Menurutnya, kenapa tidak mencari pendapat dokter lain?


Saat saya kedapatan shift 2, saya datang ke Klinik Siti Chodijah di Bangka. Di sana saya bertemu dengan dokter Erwin yang ternyata ahli dalam kandungan berisiko atau fetomaternal.


Hasilnya sama. Belum ada kantung janin. Malah kista yang sebelumnya tidak ada.




Sedih dan hancur hati saya. Belum lagi suami ngomel karena tidak diberi tahu saya menemui dokter lain.


Saya pasrah. Saya sedih. Apa mungkin benar kandungan saya lemah? Apa bibit sperma dan telur saya dan suami kurang bagus? Semua pertanyaan berkelebat di kepala saya.


Hingga lebaran, saya bersikap santai saja. Meskipun dalam hati masih khawatir karena flek dan pendarahan terus keluar.


Puncaknya di hari keempat lebaran, saya mengalami pendarahan hebat dan langsung dilarikan ke rumah sakit.


Menurut dokter Kartini, dokter yang merawat saya, saya mengalami abortus spontan. Kantung janinnya tidak ada dan rahim sudah bersih sehingga tidak perlu dilakukan kuretase.


Hari saya kelabu saat itu. Tapi saya dan suami belajar ikhlas, karena yakin ada hal besar yang menanti kami setelah ini. Pasti.


***




© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.