• sefryanakhairil

#TTCJourney: Chemical Pregnancy 2





Januari 2018


Setelah memutuskan rehat dari program hamil di akhir 2017, pada awal 2018 saya ngobrol dengan sahabat dari SMP, Sherly. Dia menganjurkan saya ke dokter Wulandari di RS Awal Bros Bekasi. Dari pengalamannya, dokter Wulan ini sangat detail dan sabar sekali saat dia menjalani program hamil. Jadilah saya dan suami membuat janji konsul dengan dokter Wulan.


Saya dan suami kaget begitu daftar, kami dapat nomor 287! Sebanyak itu pasiennya dokter Wulan? Sherly sudah cerita sih kalau pasiennya banyak, tapi tidak terbayangkan akan banyak sekali.


Karena pagi itu yang dipanggil masih nomor kecil, suami mengajak saya pulang dulu. Saya setuju. Pasti butuh waktu lama menunggu.


Sehabis dzuhur, saya dan suami kembali ke RS Awal Bros. Alhamdulillah, tidak lama perawat memanggil nama saya. Perasaan saya deg-degan. Dokter Wulan ramah sekali. Beliau menanyakan riwayat tes yang sudah saya dan suami lakukan. Saya pun menunjukkan seluruh hasil tes.


“Hasil HSG-nya bagus, nih,” begitu komentar dokter Wulan sambil memperhatikan hasil HSG, lalu beralih mengeluarkan kertas hasil tes sperma suami. “Lambat ya spermanya?”


“Iya, dok,” jawab suami. “Bisa diobati ya, dok?”


“Bisa, kok. Jumlahnya bagus.” dokter Wulan tersenyum.


“Perlu cek ASA, dok? Sesuai anjuran dokter androlog?” Pertanyaan yang saya pendam itu akhirnya keluar.


Dokter Wulan menggeleng. “Nggak perlu, Bu. Itu terlalu jauh. Kalau sudah coba segala macam cara belum hamil juga, baru deh tes ASA. Sekarang coba saya lihat sel telurnya.” Beliau mempersilakan saya berbaring.


Masih dengan jantung deg-degan, saya berbaring. Perawat menuangkan gel di atas perut saya, sementara mata saya mengikuti tangan dokter Wulan mulai meraih alat USG transvaginal dan memasukkannya ke vagina saya.


“Sel telur kanan bagus,” ujar dokter Wulan sambil menggerakkan alat USG. “Tapi yang kiri agak kecil-kecil.”


“Itu nggak apa-apa, dok?” tanya suami saya.


“Nggak apa-apa. Kurangin berat badan aja, sama olahraga. Insya Allah normal dua-duanya.” dokter Wulan menjelaskan dengan tenang.


Usai mengecek sel telur, saya pun beranjak dari tempat periksa. Perasaan saya sedikit lebih tenang.


“Saya minta Ibu tes hormon ya,” dokter Wulan menulis surat rujukan sambil bicara, “Saya resepkan torrex ya buat Bapak. Buat Ibu, saya resepkan ovacare. Dua-duanya buat satu bulan ini. Kita lihat perkembangannya ya, Pak, Bu.” kata dokter Wulan di ujung pertemuan.


***


Hari tes pun tiba. Pagi-pagi sekali saya sudah berada di depan laboratorium RS Awal Bros dengan perasaan tidak keruan. Begitu banyak kekhawatiran dalam diri saya. Suami berulang kali telepon. “Bismillah ya, Bi.” Ia selalu mengingatkan saya berdoa.


Oya, saya diwajibkan puasa makan sejak pukul 8 malam karena akan diambil darahnya.


Begitu perawat menusukkan jarum pun, saya pasrah–padahal biasanya takut. Alhamdulillah, hasil tes gula darah setelah puasa normal. Saya pun disuruh minum segelas besar air gula–benar-benar gelas besar ya–dan puasa kembali sampai dua jam sebelum diambil darah lagi.


Dua jam terasa lambat sekali saat itu hingga saya kembali ke laboratorium untuk ambil darah lagi. Tapi saya terus berdoa semoga hasil tes hormon saya bagus.


***


Saat kembali menemui dokter Wulan, saya dan suami mengembuskan napas lega. Hormon saya normal.


Alhamdulillah hasilnya bagus. Kita lanjutkan program hamilnya setelah tiga bulan ya, Pak, Bu. Obatnya lanjut ya,” kata dokter Wulan dengan wajah penuh senyum.




Saat itu, saya dan suami pulang dengan harapan besar memenuhi hati kami.


***


Juni 2018


Obat torrex dan ovacare habis setelah tiga bulan (Maret 2018) dan tanda hamil belum juga ada. Saat kembali ke dokter Wulan, saya dan suami dianjurkan tes sperma lagi dan tes hormon lengkap. Suami sepertinya takut karena hasil tes sperma pertamanya kurang baik. Jadi, saya menunggu sampai suami siap dan rehat dulu dari program hamil ke dokter.


Mengikuti saran Syera yang belum lama mendapatkan hasil tespack positif untuk konsumsi jus tiga diva, juga madu dan habbats. Dan saran dari Mbak Gadis Muthia yang suaminya juga mengalami aglunitasi, untuk perbaikan sperma suami, saya berikan oligocare dan semangka setiap malam.


Tanggal 11 Juni 2018, saya terlambat haid lalu iseng testpack. Hasilnya kok… samar? Tapi saya biarkan dulu. Lusanya, tanggal 13 Juni 2018, saya testpack lagi. Hasilnya sama, samar.




Lalu pada tanggal 14 Juni saya menstruasi.


Bingung dengan apa yang terjadi, saya dan suami mendatangi dokter Wulan dengan membawa hasil testpack tersebut. Ternyata jawabannya sama dengan dokter Icksan: chemical pregnancy.


Saya dan suami saling berpelukan saat sampai di rumah. Kami menangis bersama. Kami sama-sama menginginkan keturunan. Kami sudah berusaha, tapi belum dikabulkan Allah. Dan, kami tidak tahu harus berbuat apa.


Sejak saat itu, kami benar-benar rehat dari program hamil. Tidak ada obat-obatan, tidak ada herbal atau jus. Kami tidak mau memikirkan program hamil dulu. Kami ingin lebih santai, lebih bahagia dan terus bersyukur.


***


© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.