• sefryanakhairil

Honeymoon Trip To Belitung - Part 1

Sudah sejak lama saya ingin mengunjungi Belitung. Karena itu, ketika suami menanyakan, saya mau ke mana untuk honeymoon, tanpa ragu saya menjawab Belitung. teman-teman kantor pun banyak yang bilang kalau Belitung bagus banget–bahkan lebih bagus dari Bali.


“Ya udah, aku ikut aja. Kamu yang atur ya,” kata suami yang saya sambut dengan riang gembira.


Saya langsung mencari biro perjalanan yang terpercaya. Tentunya kita mau mendapatkan perjalanan yang bukan hanya menyenangkan, tapi juga seru dan nyaman, kan? Lalu bertemulah saya dengan BelitungWonderful.com yang membantu meng-<em>arrange</em> perjalanan kami.


Kami berangkat menggunakan Citilink pukul 5:50. Alhamdulillah pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan selamat di Bandar Udara Tanjung Pandan, cepat dan tanpa tubulens.


Sebagai informasi saja, Bandar Udara di Tanjung Pandan masih jauh dari kata bagus–kecil. Tapi, potensi bandara ini sangat besar, karena saya percaya Belitung akan semakin ramai didatangi oleh wisatawan baik lokal maupun manca negara. Semoga pemerintah memperhatikan bandara ini dan memberikan pelayanan yang lebih baik.





Sesampainya di bandara, kami dijemput oleh Mas Sapta dari BelitungWonderful.com. Ia menyapa kami dengan ramah dan lekas membantu membawakan koper-koper serta barang barang bawaan kami ke mobil.


Pagi itu, saya dan suami menikmati mi atep khas Belitung untuk sarapan di restoran Hanggar 21, tidak jauh dari bandara. Rasanya mirip dengan mi tek-tek di Jakarta, tapi lebih manis. Saat saya tanya-tanya ke pelayan, mi atep ini terbuat dari udang basah dan udang kering yang dihancurkan lalu dicampurkan dengan kemiri, yang membuat kuah menjadi pekat.





Perjalanan dilanjutkan menuju Belitung Timur. Lama perjalanan dari Tanjung Pandan menuju Gantong sekitar dua jam–kalau berkendara dengan mobil. Jalan-jalan di Belitung sangat sepi, jadi sangat mudah menentukan durasi perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.


Sebagian besar jalan di Belitung sudah diaspal. Kalau teman-teman suka mengeksplor dengan sepeda motor, pulau ini bisa menjadi tujuan. Danaspalnya pun mulus, hanya beberapa tempat saja yang agak rusak atau sedang dalam perbaikan.


Di Belitung tidak ada angkutan umum, masyarakat sekitar berkendara dengan kendaraan pribadi–motor ataupun mobil. Bus pun jarang, karena sebagian besar bus sudah digunakan untuk bus pariwisata. Hal ini sangat saya sayangkan, karena untuk wisatawan seperti saya kalau ingin keliling kota tanpa travel agent, tentu memerlukan angkutan umum.


Tempat yang kami kunjungi pertama adalah Replika SD Muhammadiyah Gantong. Bangunan ini sudah dicat berulang kali agar tetap terawat dan nyaman dikunjungi para pelancong.






Setelah puas mengelilingi Replikas Sekolah Laskar Pelangi, perjalanan dilanjutkan menuju Musium Kata Andrea Hirata. Sebagai penulis, tentu saya sangat bersemangat mengunjungi tempat ini.





Sebagai seorang sastrawan, Andrea Hirata sangatlah kreatif. Beliau menuliskan kutipan-kutipan dari berbagai penulis terkenal yang menjadi inspirasi tersendiri untuk saya. Tempat ini penuh warna, penuh imajinasi. Menyenangkan sekali berkeliling tempat ini ditambah menikmati secangkir kopi hangat.


Puas mengelilingi Museum Kata Andrea Hirata, kami diajak menuju Kampung Ahok. Tempat ini hanya berjarak 10 menit dari museum. Awalnya, saya dan suami berpikir, kami hanya akan melewati tempat ini. Tetapi ternyata kami benar-benar berkunjung ke destinasi wisata baru di Belitung ini.


Dari informasi yang saya dapat dari sang guide, Kampung Ahok ini merupakan konsep wisata terpadu yang didirikan oleh keluarga besar Pak Ahok di Belitung Timur dengan maksud menjawab rasa penasaran masyarakat terhadap perjalanan hidup seorang Basuki Thahaja Purnama atau Ahok sang Gubernur DKI Jakarta.


Keluar dari mobil, kami disambut papan nama besar bertuliskan “Kampung Ahok” yang terbuat dari kayu-kayuan dan warna-warna mencolok di pinggir jalan, berseberangan dengan rumah ibunda Pak Ahok. Di area itu terdapat bangunan mirip rumah panggung khas Belitung, yang kabarnya menjual pempek dengan saus taucho. Sayangnya, kami tidak sempat mencicipi pempek ini.





Saya dan suami lebih memilih menikmati kunjungan ke rumah keluarga besar Ahok, yang katanya merupakan rumah masa kecil sang gubernur. Rumah tersebut bercat peach, dikelilingi pepohonan teduh dan peternakan kecil kuda poni yang lucu.





Tidak ingin berlama-lama di Kampung Ahok, perjalanan pun dilanjutkan. Kami segera meluncur menuju Rumah Bundar. Kata Mas Sapta, tempat ini menarik dan romantis.





Saat keluar dari mobil, kami disambut oleh rumah-rumah yang terbuat dari rotan atau kayu-kayuan berukuran sangat besar. Di sekelilingnya, danau berair jernih terbentang indah. Cuaca siang itu cukup terik dan terasa begitu membakar kulit. Namun keseruan demi keseruan tidak menyurutkan kebahagiaan kami.

6 views

© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.