• sefryanakhairil

#TTCJourney: Chemical Pregnancy


Percayalah, bukan hal mudah menceritakan ini, karena permasalahan ini sangat menyita energi, hati, dan pikiran saya. Saya sempat ingin menuliskan ini di blog, tapi saya urungkan.


Sampai suatu hari, teman dekat saya, Syera Octavia, mulai saling berbagi perjalanan program hamilnya. Kami bertukar informasi dan terkadang menangis bersama saat haid datang. Berkat Syera, saya merasa tidak sendirian lagi. Dia pun menyemangati saya, “Kalau nanti sukses hamil, kita tulis ya. Biar jadi sharing pengalaman buat orang banyak.”


Ya, tulisan ini bukan untuk mencari perhatian apalagi mengumbar privasi, tapi saya ingin berbagi dengan banyak orang yang juga sedang berjuang mendapatkan buah hati agar tidak putus asa begitu saja.






Saya menikah dengan Luki pada bulan Oktober 2016–tiga tahun lalu—dan kami tidak pernah ada niatan menunda punya anak. Namun, garis dua itu tidak kunjung hadir.


Sering saya merasa iri dan sensitif dengan teman yang mengumumkan bahwa dirinya hamil. Iya, saya sedih kenapa orang lain begitu mudahnya hamil, sementara saya belum? Apalagi di lingkungan saya, banyak sekali pertanyaan yang tidak enak seputar anak, membuat saya merasa down. Tapi perlahan-lahan saya mencoba untuk tidak berpikir negatif dan mencoba bersyukur dengan kebahagiaan yang Allah berikan untuk saya juga suami.


***


September-Oktober 2017


Hampir setahun menikah, kakak ipar saya menyarankan untuk cek ke dokter Icksan Ambiar, salah satu dokter senior di RS Bunda, Menteng.


Dokter Icksan merujuk suami cek sperma ke dokter Indra G. Mansur di RS Sayyidah, Buaran—beliau memang ahli andrologi. Melalui beberapa konsultasi dan pemeriksaan, kami baru tahu kalau sperma suami mengalami aglunitasi (sperma saling menempel kepala dengan kepala, ekor dengan ekor) dikarenakan adanya leukospermia (infeksi pada salah satu saluran), dan ashteno (pergerakan sperma cepat 0%).


Terlebih di situ tertulis: kecil kemungkinan bisa membuahi secara alami.



Dokter Indra menyarankan saya dan suami untuk tes ASA (antibody antisperm). Jika ASA saya tinggi berarti diperlukan PLI—transfusi darah putih suami ke saya. Dan jika ASA suami tinggi berarti ada masalah pada sistem imun dan perlukan perawatan hormon. Kalau jalan PLI atau terapi hormon belum berhasil juga, jalan terakhirnya adalah inseminasi buatan atau bayi tabung.


Awalnya, berat sekali menerima saran dokter Indra. Kami kembali ke dokter Icksan dan beliau menenangkan kami agar sperma suami di-boost dengan vitamin dan obat dulu karena dari hasil tes HSG dan cek sel telur saya semua bagus.





Sebulan setelah konsumsi obat, saya positif hamil. Rahim mulai menebal, namun kantung janin belum terlihat.




Seminggu kemudian saya keluar darah seperti menstruasi. Karena panik, saya langsung menemui dokter Icksan, khawatir hamil di luar kandungan.


“Ini chemical pregnancy. Biasanya disebut biochemical pregnancy atau keguguran pada masa sangat awal kehamilan,” kata dokter Icksan.


“Maksudnya gimana, dok? Beneran hamil nggak sih?” Saya bertanya bingung.


“Hamilnya sih beneran, kan sel telur sempat dibuahi sperma. Buktinya testpack positif, berarti hormon hCG terdeteksi, dong. Tapi blatosisnya nggak berkembang.” Dokter Icksan menjelaskan dengan istilah yang saya tidak paham.


“Penyebabnya, dok?”


“Kromosom di sperma suami jelek. Tapi nggak apa-apa, kita coba lagi ya.”


Berbeda dengan keguguran spontan yang telah terjadi implantasi, pada chemical pregnancy, blatosisnya tidak berhasil menempel pada rahim. Begitulah penjelasannya kira-kira.


Saya dan suami tidak mau terlalu pusing memikirkan alasan ini dan itu, tapi memang belum waktu-Nya.


Rasa sedih tidak serta-merta hilang begitu saya dan suami mengatakan, “Semua akan indah pada waktunya.” Buktinya, ketika mendengar ada teman yang baru menikah dan hamil, ada rasa nyes di hati saya. Kenapa mereka dikasih duluan ya? Terlebih suara-suara yang membuat saya semakin down. Rasanya mau teriak ke telinga orang-orang itu, ‘ngerti nggak sih perasaan gue?’


Berkat kekuatan dan kasih sayang keluarga, semangat saya kembali untuk kembali melakukan program hamil.


***



© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.