• sefryanakhairil

Jalan-jalan ke Pulau Tunda


“It is good to have an end to journey toward, but it is the journey that matters, in the end.” (Ernest Hemingway)

Perjalanan ke Pulau Tunda sebenarnya adalah keputusan yang tiba-tiba. Ketika saya menunjukkan info open trip Libur Seru ke Pulau Tunda kepada pacar saya, dia langsung bilang, "Kita jalan-jalan yuk!" Ternyata ada benarnya kalau segala sesuatu yang tidak benar-benar direncanakan, (biasanya) akan berjalan.

Lalu Pulau Tunda menjadi topik pembicaraan saya dan pacar. Dulu, kami lebih sering membicarakan gunung atau pulau lain yang menjadi tujuan wisata kami untuk kemping, snorkeling dan menikmati alam. Sekarang, ketika membuka YouTube, kami sering mencari tentang Pulau Tunda dan bahkan kami mencari tahu cerita-cerita kuliner yang mungkin menarik untuk kami cicipi. Tidak lupa, saya pribadi ingin mencari kisah-kisah budaya ataupun sejarah yang menarik untuk saya gali.


*

Meeting point kami di Plaza Semanggi. Kami berangkat sekitar pukul 6 menuju Pelabuhan Karangantu. Perjalanan menuju pelabuhan yang dulu begitu tersohor, yang terletak di Serang ini, sekitar 2 jam. Cuaca pagi itu cerah. Jalan pun ramai lancar.

Bayangan saya tentang pelabuhan dengan laut kebiruan dan kapal-kapal, berubah ketika memasuki tempat ini. Pelabuhan Karangantu sangat jauh berbeda dengan saat masa kejayaannya. Kami disambut pedagang-pedagang ikan. Aroma amis menguar di udara. Di sisi kanan dan kiri jalan terbentang sungai berair kecokelatan. Kapal-kapal nelayan tertambat di pinggirnya, serta kapal-kapal yang telah karam dan rusak, dibiarkan saja, sehingga tempat ini terlihat kumuh.

Perjalanan menuju Pulau Tunda kami tempuh selama kurang-lebih dua jam. Saat itu gelombang sedang tinggi, sehingga guncangan di kapal sangat terasa. Karena cuaca cerah, sebagian tidur dan sebagian lagi bisa menikmati birunya langit dan aroma asin laut untuk mengurangi pusing dan mual.


*

Tidak terasa, kami sampai di dermaga pulau yang sederhana dan sangat terlihat kalau pulau ini masih belum terkenal seperti Pulau Tidung, Pulau Pari ataupun pulau-pulau lain yang menjadi gugus pulau di Kepulauan Seribu. Tidak ada penjual aksesoris atau cinderamata khas pulau ini yang di jual di sekitar.



"Penghasilan masyarakat di sini sebagian besar dari cari ikan, nelayan. Ada juga yang bercocok tanam," terang Bayu, yang menjadi pemandu wisata kami.

Kami menikmati makan siang di rumah salah satu warga. Menunya sederhana, ikan kembung goreng, sup ayam, sambal goreng, kerupuk yang baru matang. Dua hal yang spesial dari penduduk pulau ini adalah saat menyediakan nasi selalu banyak (atau mungkin saya bisa menambahkan kata 'sangat').


Homestay tempat kami menginap berada di bibir pantai. Kami harus meniti jembatan bambu untuk bisa sampai ke tempat tersebut. Tapi semangat dan kegembiraan yang besar sepertinya mengalahkan rasa takut kami menaiki jembatan tersebut.


Aktivitas menyenangkan di Pulau Tunda ini tentu saja adalah snorkeling! Pulau ini adalah tempat wisata bahari bawah laut dengan keindahan ekosistem bawah lautnya seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan.




*

Hari kedua di Pulau Tunda, kami menyusuri jalan setapak perkampungan pulau menuju pantai dan Jembatan Galau. Ini perbedaannya. Kalau Pulau Tidung mempunyai Jembatan Cinta, maka Pulau Tunda memiliki Jembatan Galau.

Sepanjang jalan yang terbuat dari bebatuan dikelilingi tanaman merambat, genangan air, dan bunga-bunga liar. Tampak asri dan segar di pagi hari. Beberapa kali kami harus menghentikan perjalanan karena ada anak kecil mengendarai motor dan sepeda yang ingin mendahului kami.





Banyak hal baru yang saya temukan saat mengunjungi pulau ini, antara lain, bahasa yang digunakan di Pulau Tunda campuran, ada yang berbahasa Sunda, ada yang berbahasa Jawa.

Listrik di Pulau Tunda tidak menyala sepanjang waktu. Pada jam-jam tertentu, listrik padam. Kalau mau menyimpan es, tidak akan beku sempurna. Begitu juga dengan minuman dingin.

Indomie yang dimasak dengan telur di Pulau Tunda, dimasak langsung dengan bungkusnya sehingga bentuknya unik!


Seorang pengusaha kaya raya membantu mengembangkan pulau ini dengan memperbaiki jalan, memperkerjakan pemuda-pemuda pulau, dan mendirikan sekolah. Sang pengusaha tidak mempunyai anak, tapi sangat mencintai anak-anak, jadi berusaha untuk mendidik anak-anak ini.

Anak-anak di Pulau Tunda hanya sekolah sampai SMP, kalau mereka mau sekolah SMA, mereka harus keluar pulau. Tapi hebatnya, mereka punya saung baca sendiri yang bertuliskan "Jangan Tunda Baca". Saat melewatinya, saya melihat ada seorang lelaki paruh baya sedang membaca. Hal ini menunjukkan kalau keinginan belajar penduduk sekitar sangatlah besar, tidak peduli usia.


*

Begitulah kira-kira perjalanan saya ke Pulau Tunda bersama teman-teman Libur Seru yang memang benar-benar seru. Semua tempat yang saya datangi, saya sangat merekomendasikannya!

Yang paling penting dalam sebuah perjalanan bukanlah ke mana tujuannya, tetapi bagaimana kita menikmatinya.

#journal #traveling

4 views

© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.