• sefryanakhairil

Lintasan Waktu



Hari itu kita berpapasan. Tanpa pendahuluan. Kita berjalan-jalan, mendatangi sebuah taman.

Aku selalu menyimpan cita-cita dalam benakku, untuk menyusuri sepanjang Jalan Malioboro di malam hari bersamamu. Aku akan mengulurkan tangan, menyimpan tanganmu dalam genggamanku. Kita akan menikmati lampu-lampu jalan berpendar, suara nyanyian pemusik jalanan, deretan bangunan, orang-orang berlalu lalang, juga melintasi aspal yang acap kali bergelombang.

Mungkin kita akan melanjutkan perjalanan dengan becak. Duduk berdampingan. Kamu akan mencuri pandang ke arahku malu-malu, lalu aku semakin erat menggenggam tanganmu. Kita saling terdiam, membiarkan angin malam membunyikan keloneng becak, serta decit ban mobil mendahului kita. Tidak peduli apa. Malam itu hanya kita yang punya.

*

Taman itu sama-sama kita tidak tahu namanya. Kita hanya melangkah saja. Dan, membangunkan sesuatu di sana.

Kesiur angin menyambutku di pelataran Bandara Adi Soedjipto. Beberapa sopir taksi–yang biasa ataupun yang eksklusif–bergantian menawarkan jasa. Aku menimbang-nimbang beberapa saat dan memutuskan menggunakan taksi lokal.

Yogyakarta. Di kota inilah aku akan menemuimu.

“Tunggu aku di Malioboro. Tempat biasa. Pukul setengah tiga.”

Kira-kira, begitulah pesan yang dikirimkan olehmu sebelum aku berangkat.

Tempat kami biasa bertemu bukan tempat istimewa. Tempat itu hanyalah sebuah warung gudeg. Tempat singgah, merasakan nikmatnya masakan khas kota ini, lalu melanjutkan hidup lagi. Sama seperti perjalanan sehari-hari, pikirku. Orang yang lelah, singgah sebentar untuk mengisi energi. Serupa tempat khayal dari segala kehidupan nyata.

Kamu adalah pusat khayalku. Arah yang selalu aku tuju. Sejak kita mengenakan putih abu-abu dan aku pindah ke Bandung. Setelah beberapa tahun, kita akan kembali bertemu.

Sekilas, aku melirik arloji yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Pukul satu. Aku akan sampai lebih awal. Menunggumu tidak akan pernah menjadi masalah untukku. Bukankah aku telah menunggumu bertahun-tahun? Tentu saja satu-dua jam bukan masalah.

Karena aku mencintaimu. Cukupkah alasanku itu?

*

Sesuatu yang kita tidak pernah urus dengan baik. Hingga rerumputan menguning, sebagian lagi mengering.

Sepiring gudeg dengan telur kecap sudah habis aku lahap. Tapi, kamu belum juga datang. Ada yang harus kamu urus, begitu jawabmu ketika aku bertanya. Tadi sudah kubilang, kan, aku akan menunggu, selama apa pun itu.

Aku mengeluarkan sebungkus rokok yang isinya tinggal separuh. Kunyalakan sebatang dan kuselipkan di antara bibirku. Asap mengepul ke udara, larut bersama angin dari bagian depan warung yang terbuka. Sambil menjentikkan abu rokok ke asbak, aku melayangkan tatapan ke jalan. Sepeda motor berjalan santai. Becak bergerak pelan. Aku mengembuskan asap rokok, lantas mendengus pelan. Kota ini sempat tidak ingin aku kunjungi lagi setelah ayah dan ibuku berpisah, lalu ayahku menikah lagi.

Tapi di kota ini ada kamu. Satu-satunya yang tersisa dari semangat hidupku.

*

Bunga-bunga pun terlihat bosan, berjatuhan. Ketika mekar, tidak pernah kita petik. Tapi, kamu, kan yang bilang biar tersemai?

“Apa kita akan bertemu lagi?” tanyamu dengan tatapan kosong mengarah ke rel kereta.

Aku yang duduk di sampingmu di deretan kursi di peron, meraih tanganmu. Belum bisa mengatakan apa pun, karena aku tidak tahu seberapa lama aku akan tinggal di Bandung. “Aku pasti sesekali ke Yogya,” kataku, setelah beberapa saat.

Kamu menaikkan pandangan. Menatap langsung ke mataku. Tanpa menanggapi apa pun. Hanya remasan tanganmu yang mengisyaratkan berat merelakanku pergi.

“Aku pasti kembali,” kataku seraya mengusap wajahnya yang bermimik datar. Bibirku berusaha mengulas senyum. “Pasti,” tambahku.

Aku mengerti, kamu tidak ingin rasa bersemi saat taman itu belum siap ditanami.

Seberkas masa lalu. Saat ini aku sedang memenuhi janjiku padamu. Kapan kamu datang? Aku mulai jemu. Kembali aku mengembuskan asap rokok ke udara. Kuperhatikan asap itu melayang-layang, lalu menghilang.

Apa saja yang kamu alami selama aku dan kamu berpisah? Aku jadi bertanya-tanya, karena kamu tidak banyak cerita di jejaring sosial ataupun pesan yang kamu kirim. Barangkali kamu sudah menyelesaikan kuliah ekonomimu di UGM, kampus impianmu dulu. Barangkali kamu sudah bekerja, jadi pegawai bank, seperti cita-citamu. Barangkali hanya menungguku. Ya, menunggu untuk membina rumah tangga bersamamu, layaknya omongon konyol kita di sela waktu istirahat.

Tapi, kamu belum datang juga. Ke mana kamu sebenarnya? Apa yang tengah kamu urus? Aku memutuskan menambah segelas kopi.

*

Yang tidak bisa kumengerti adalah kenapa kamu tidak memanggilku saat kita bertemu di jalan. Membawa bibit rasa baru untukmu.

Aku mematikan bara rokokku yang sudah pendek di asbak sambil mengembuskan asap terakhir. Pukul setengah empat. Berarti, sudah satu setengah jam aku menunggu kehadiranmu, tapi belum datang juga. Dan, tidak ada kabarnya.

Langit berubah sedikit gelap. Matahari bersembunyi di balik awan. Angin yang bertiup meniupkan aroma tanah lembap, aroma hujan. Setengah jam lagi, putusku. Aku tidak mau mengecewakanmu.

Ke mana aku akan membawamu saat kita bertemu? Barangkali mengitari Keraton kalau masih sempat. Kamu selalu suka Keraton, kan? Setiap orang punya sejarah, punya masa lalu. Keraton mengingatkanmu untuk tidak melupakan begitu saja masa lalu. Barangkali kamu akan mengajakku keliling Malioboro, melihat aksesori manis. Aku tidak mengerti mengapa perempuan suka hal-hal seperti itu. Tapi, aku menyukaimu dengan jepit rambut di ponimu. Kamu manis sekali.

“Kamu gombal!” Selalu itu yang diucapkanmu setiap aku memuji. Heran, setiap kata manisku dibilang gombal. Siapa, sih, gombal kamu sebut-sebut terus?

Aku baru saja hendak mengeluarkan sebatang rokok yang tersisa di dalam bungkusnya ketika sebuah taksi berhenti di depan warung gudeg. Mataku mengikuti gerak pintu taksi terbuka. Mataku berseri melihatmu. Ya, aku tidak salah itu kamu. Tinggi standar perempuan. Rambut tergerai bergelombang. Kulit kuning langsat. Aku menarik napas dalam-dalam. Semakin tidak sabar menemuimu.

Tapi, tunggu. Napasku tertahan. Keningku mengerut. Mataku menyipit. Siapa anak kecil berseragam putih merah yang bersamamu itu? Aku sama sekali tidak mengenalinya.

“Maaf lama.” Kamu menyapaku.

Aku tersenyum, meski terus bertanya-tanya. “Nggak apa-apa.”

Kamu sedikit menunduk pada gadis kecil yang digandengnya. “Wulan, ayo salam sama Om.” Lalu kamu menatapku yang masih bingung saat anak itu mencium tanganku. “Tadi, aku harus jemput Wulan dulu. Ayahnya masih di sibuk di toko.”

Aku menelan ludah. Kulihat wajah gadis kecil itu. Wajah yang begitu mirip… denganmu.

Yang semakin tidak kumengerti kenapa kamu membiarkan bibit itu berjatuhan. Kamu yang bilang, kan, jaga sampai kita berpapasan?

#readandwrite

5 views

© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.