• sefryanakhairil

Snow Falls in New York



Love comes very quickly and it disappears just as quick.

Ken berdiri di tengah keramaian bandar udara John F. Kennedy. Semuanya terasa sunyi. Biasanya, keheningan dalam keramaian ini akan terisi oleh pekik gembira Gwen yang begitu gembira melihatnya. Perempuan itu akan berlari ke arahnya, masuk ke pelukannya.

I miss you so bad!” Itu yang selalu dikatakan Gwen setiap mereka bertemu. Tidak mudah menjalani hubungan jarak jauh, namun Ken berusaha semampu yang ia bisa. Merasakan hangat tubuh Gwen dalam pelukannya, rasanya ia ingin bisa memeluk Gwen untuk selamanya.

Tapi, berapa lama sebenarnya arti kata ‘selamanya’?

Saat Gwen memilih mengakhiri, semua seperti lamunan yang buyar begitu saja. 'Selamanya' hanya berlaku dua tahun untuk mereka.

Ken menarik napas berat dan melanjutkan langkahnya ke pintu keluar bandara. Sudah tiga bulan tidak ada kabar dari Gwen. Mungkin memang salahnya terlalu sibuk dalam pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit dan mengurus bisnis-bisnisnya sehingga banyak yang terlupa. Seharusnya Gwen mengerti pekerjaannya. Mengerti bagaimana ia mengendalikan semua yang ada di hidupnya. Tapi, mungkin sulit untuk perempuan itu. Gwen mulai protes saat menyadari banyak yang Ken lupa, termasuk ia lupa hari jadi mereka di tahun kedua dan puncaknya, ia melupakan ulang tahun Gwen.

Seandainya Gwen tahu, Ken tidak berniat melupakan semua yang berarti untuk mereka berdua. Tidak, walau satu detik saja. Saat itu ia sudah ingin menghubungi Gwen, tapi ada tindakan pada pasien yang tiba-tiba kondisinya drop dan kritis. Sampai di rumah tengah malam, tubuhnya roboh, tidak mampu menahan lelahnya. Dan ketika bangun, ia mendapati beberapa pesan dan telepon tak terjawab dari Gwen. Jantungnya berdebar keras, panik. Ia cepat-cepat meraih ponselnya dan menelepon Gwen.

“Gwen…” Ken tercekat mendengar napas perempuan itu tidak teratur. Gwen menangis.

“Udahlah, Ken…” Suaranya bergetar.

“Gwen, kemarin itu aku ada meeting, terus malamnya ada pasien yang–”

Enough, Ken. Aku capek.” Potong Gwen. Ia berusaha mengatur napas.

“Gwen, aku sama sekali nggak ada maksud cuekin kamu.” Tenggorokannya terasa kering dan pahit. Ken memijat pelipisnya, bingung harus menjelaskan seperti apa pada Gwen. Posisinya memang salah. Kata-kata tidak ada yang bisa membenarkannya. “Aku juga nggak ada niat lupain ulang tahun kamu.” Ia berkata lirih.

Gwen diam. Benar-benar tidak ada suara dan Ben juga tidak tahu harus bagaimana. Ia menatap ke sekeliling kamarnya, berupaya menemukan sebuah cara. Keputusan Gwen kuliah di New York dulu selalu jadi perdebatan mereka. Beginilah yang ditakutinya. Mereka tidak bisa. Ia berharap Gwen memberi kesempatan untuk kesekian kalinya dan kembali seperti biasa. Menyemangatinya bekerja atau bersuara ceria untuk memeriahkan harinya. Namun, detik-detik berlalu dalam senyap.

“Aku bener-bener capek, Ken.” Gwen menghela napas yang terdengar berat. “Kita… sebaiknya udahin aja semua…”

Lidah Ken kelu mendengarnya. Tubuhnya kaku. Gwen tidak mengatakan apa-apa lagi, langsung mengakhiri percakapan. Ken tidak tahu bagaimana cara mengembalikan Gwen menjadi miliknya.

Gwen-nya sudah pergi.

Dan, Ken tidak mengatakan apa-apa.

*

Letting go of someone you love is very hard.

Salju.

Gwen menatap butir-butir putih yang jatuh sepanjang jalan. Suasana dingin di New York semakin kental dengan lalu lalangnya orang-orang berpakaian tertutup.

Setiap salju, ia selalu rindu Ken. Laki-laki itu biasanya datang di akhir tahun. Mereka melakukan banyak hal, berbahagia seperti semua tidak akan ada akhirnya. Gwen membayangkan bagaimana indahnya melihat salju meleleh di lekukan jendela bersama Ken sambil menikmati segelas hot chocolate. Ia suka harum segar tubuh Ken. Merasakan gelitik janggutnya yang baru tumbuh ketika laki-laki itu masih tidur. Atau bersembunyi dalam lekukan lengannya. Ken membuatnya merasa aman.

Seraya melangkahkan kaki sepanjang jalan melihat dekorasi Natal, Gwen melihat ponselnya. Ia sering mematikan ponselnya, tidak lama menghidupkannya kembali. Ia berharap bisa melupakan Ken. Mereka seharusnya sejak awal sadar kalau tidak bisa menjalin hubungan antarbenua. Tapi, semakin ia berusaha, semakin tidak bisa. Lalu, apa yang diharapkannya? Ken seakan tidak peduli dan ia seperti menjalani semuanya seorang diri. Sampai saat ini pun, Ken sama sekali tidak mengirimkan pesan padanya. Tidak berusaha memintanya kembali atau sekadar minta maaf. Mungkin ia harus belajar tidak mengingat apa apun tentang Ken.

Gwen kembali memasukkam ponselnya ke saku dan mengalihkan perhatiannya ke bola-bola merah di Rockefeller Center. Bola-bola itu adalah hiasan pohon-pohon natal yang dijadikan patung besar dan dibiarkan begitu saja di pinggir jalan. Gedung-gedung pencakar langit ikut memeriahkan Natal dengan memasang hiasan terindah. Lampu-lampu bergemerlapan sepanjang jalan. Udara dingin tercium di mana-mana. Dan juga… salju.

Dari Madison Avenue, Gwen terus melangkah ke Central Park. Taman besar itu tampak ramai dan ia segera duduk di salah satu kursi kosong. Kereta kuda dengan kusir mengenakan pita berwarna emas, melambaikan tangan pada pengunjung taman. Gwen tersenyum, cukup terhibur. Terlebih dengan kehadiran orkestra di salah satu gazebo.

Pada awalnya, Gwen tersenyum sendu, hingga ingatan tentang musim dingin tahun lalu saat Ken membawanya ke sebuah toko cokelat. Laki-laki itu menutup matanya dengan saputangan dan menyuapkan cokelat. Satu di antara cokelat itu terasa lezat. Perpaduan cokelat dengan bubuk cabai. Antara manis, kental, dan pedas menyatu di lidahnya, bersamaan dengan lembutnya bibir Ken mencium bibirnya. Kejutan Natal yang tidak mungkin dilupakannya.

“I love you. Need I say more?”

Senyum Gwen berganti getaran. Isakan. Ternyata, kebahagiaannya tidak berubah. Bersama Ken. Dan itu cukup. Namun, Ken tidak memilinya untuk menjadi kebahagiaannya. Ia mengusap matanya.

Semua terasa hening. Hanya terdengar napas pelan dan ia melepaskan semua angan.

*

Then I realize, I really want you back.

Ken berdiri di dalam lift Empire State Building. Ada sebuah tanda hati besar di satu sisi bangunan tersebut. Lampu-lampu khas natal mengelilinginya. Dengan gusar, ia menghitung setiap detik waktu menuju lantai empat, tempat di mana orang-orang bisa melihat kota New York dari ketinggian.

Namun, Gwen tidak di sana. Ken mendesah kecewa.

Dengan sedikit tergesa, ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Gwen. Tidak aktif. Ia mencoba lagi dan lagi. Hasilnya sama.

“Gwen, aku di Empire State Building. Kamu bisa ke sini sekarang?” Ken merekam suaranya di mailbox.

Beep.

“Aku nunggu kamu, Gwen.” Ken merasakan debar ngilu terasa di dadanya. “I need you...”

Beep.

Please forgive me, Gwen. Please come back...

Beep.

Ken memegang ponselnya erat-erat, frustrasi. Ternyata ia tidak mungkin mendapatkan Gwen kembali. Dan semua yang mereka miliki telah pergi.

“Ken?”

Laki-laki itu berbalik mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya. Jantungnya berdebar lebih cepat, takut bukan dirinya yang dipanggil. Takut salah dengar. Tapi, ia melihat Gwen di sana. Napas Ken tertahan. Segala yang ada pada tubuhnya terserap keluar. Ia berharap yang ada di depannya bukan halusinasinya.

Please come back…” ucap Ken dengan sisa suaranya.

Sepasang mata Gwen berkaca-kaca. Ia tidak menjawab apa-apa, hanya mengulas senyum lega.

*

#readandwrite

2 views

© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.