• sefryanakhairil

Al & Ella: Prolog



Apa sebenarnya yang kita tahu tentang kehilangan?

Jarum-jarum perak berjatuhan lebat dari langit gelap. Butir-butir bening membasahi ujung mantel cokelat kemerahan, membalut tubuh seorang perempuan yang tengah berjalan tergesa.

Gemuruh terdengar beberapa kali, menutupi suara derap cepat sepatu yang berpacu dengan degup jantung bertalu-talu. Hanya deru napas yang terdengar oleh telinganya sendiri dari celah bibir yang sedikit terbuka.

Ella, perempuan itu, menutup payung ketika tiba di pelataran rumah sakit, terus melangkah cepat di antara orang-orang berlalu-lalang. Dirinya diliputi rasa terkejut, cemas, dan panik, masih tidak percaya apa yang baru saja terjadi dan bagaimana hidup berubah terbalik seperti ini.

Perasaannya tidak enak saat menjawab telepon. Suara seorang laki-laki di seberang terdengar tergesa. Ella mengenal suara itu, suara Al, yang mengatakan sebuah kabar…

Maura kecelakaan.

Sahabatnya itu kini dalam keadaan kritis.

Hujan lebat membuat Maura tidak bisa melihat lampu merah. Sebuah truk yang tengah melaju kencang menghantam mobil yang dikendarai sahabatnya itu hingga terseret beberapa kilometer.

Mendengar kabar itu, jantung Ella seketika tubuhnya lemas. Dia memegang erat ponsel, mencoba membayangkan kenyataan yang mencenangkan itu. Pikiran gelap dan tidak dikehendaki mulai mengalir dalam benaknya yang mendadak kacau.

Setelah percakapan terputus, Ella memaksakan diri bergerak. Dia menggendong Zoey, putrinya, melangkah keluar dan mengunjungi apartemen tetangganya untuk menitipkan si gadis kecil, lalu segera pergi ke rumah sakit.

Cahaya lorong rumah sakit sedikit redup, sama seperti hati dan pikiran Ella. Suara percakapan dan roda brangkar yang melewatinya seakan begitu jauh.

Aroma obat-obatan yang menguar di sekeliling benar-benar tidak disukainya Langkah Ella melambat melihat seorang laki-laki sedang berbicara dengan polisi.

Itu Al.

Polisi berseragam biru gelap itu menyerahkan sesuatu kepada Al, tapi Ella tidak dapat melihat jelas benda apa itu. Kemudian sang polisi menepuk pundak Al sebelum meninggalkannya.

Ella mengamati Al yang tampak lemas dan lunglai. Mendadak dia tidak bisa merasakan aliran darah dan detak jantungnya sendiri.

Terlambat, itulah yang melintas di kepalanya.

***

Aku hanya butuh satu jawaban. Satu saja. Mengapa kehilangan harus begitu menyakitkan?

Waktu seakan berhenti berjalan saat Al mendengar seorang polisi mengabari Maura mengalami kecelakaan.

Membayangkan kejadian itu membuat ngilu meremang. Ia diam, hanya mendengar perkataan sang polisi kalau istrinya terluka parah. Pihak kepolisian membawanya ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.

Tanpa menunggu lebih lama, Al meraih kunci mobil dan telepon genggam, lalu segera meninggalkan kantor dan pergi ke rumah sakit.

Ternyata, takdir berkata lain untuk Maura.

Al memegang tas berwarna hitam dan kantong plastik bening berisi cincin yang diberikan polisi. Ia menatap nanar benda-benda itu. Otaknya lumpuh.

Jantungnya seakan berhenti berdetak. Saraf-sarafnya pun seakan mendadak tidak berfungsi.

Rasa sakit memenuhi hatinya. Begitu sakit hingga Al kesulitan bernapas.

Menyadari ada seseorang di dekatnya, Al memalingkan wajah dan matanya bertemu pandang dengan mata biru seorang perempuan.

Ella.

Sahabat Maura.

Perempuan berambut cokelat keriting itu berada di sana dalam balutan mantel yang tak terkancing, menyingkap sedikit perutnya yang mulai membesar.

Mereka saling menatap, sama-sama tidak bergerak, sama-sama berbagi kesedihan tanpa kata-kata.

"Bagaimana Maura?" tanya Ella dengan suara tercekat.

Al menggeleng. Dan, ia yakin Ella mengerti maksudnya.

Dengan gerakan sangat pelan, Ella tertata mundur beberapa langkah sambil menutup mulut dengan kedua tangan dan menggeleng tak percaya. Wajahnya memucat dan tubuhnya gemetar.

Al menelan ludah susah payah. Semakin terasa sakit. Padahal baru saja mereka bertiga berbahagia akan datangnya buah hati.

Refleks, Al mengulurkan tangan, memeluk tubuh Ella yang mulai terisak.

Mereka sama-sama menangis tanpa suara.

Ya, Maura sudah pergi. Selamanya.

***

#readandwrite

4 views

© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.