• sefryanakhairil

Meet Al



Seberapa besar keikhlasan yang dibutuhkan seseorang ketika harus melepas separuh hidupnya?

Al memunggungi ruang duduk, berdiri termangu memandang ke luar jendela bening besar menampilkan pemandangan muram Kota New York bernaungkan awan mendung.

Di kaca jendela terpantul bayangan dirinya mengenakan kemeja dan celana hitam.

Pemakaman Maura belum lama berlalu

.

Orangtua Al beberapa menit lalu meninggalkan apartemen, mengejar pesawat ke Jakarta. Orangtua Maura juga sudah kembali ke Minnesota setelah pemakaman selesai. Sanak saudara dan kerabat juga sudah pulang.

Hanya ada dirinya di bangunan luas bergaya interior modern yang berada di West Central Park itu.

Pada pantulan yang sama, Al menemukan bayangan dirinya saat bersamaan menyebutkan pesanan dengan seorang perempuan di sebuah kedai kopi. Lalu mereka saling bertukar pandang.

Perempuan itu cantik. Bertubuh langsing dan semampai, lebih tinggi dua atau tiga senti dari dirinya—sekitar 177 cm. Bermata greenish yellow, berbingkai bulu mata dan alis keemasan. Wajahnya lonjong, bertabur bintik-bintik kecokelatan yang disamarkan blush on merah muda.Rambut light blonde-nya luruspanjang menyentuh punggung. Bibirnya yang tipis berlapiskan lipstik peach. Cara berpakaiannya eye catching dan fashionable.

Setelah keluar kedai kopi sambil membawa kopi masing-masing, Al dan perempuan itu kembali bertukar pandang. Lalu perempuan itu menyapanya. Mereka ngobrol sepanjang jalan menuju stasiun.

"Maura," ucap perempuan itu seraya menjulurkan tangan begitu mereka tiba di Christoper Street, hendak naik kereta yang berbeda. "Maura Patterson."

Al mengangkat alisnya. Ia tidak menyangka akan bertemu perempuan seperti ini. Begitu berani dan bersemangat. Sangat menarik.

Lalu ia dan perempuan bernama Maura itu resmi berkenalan dan saling bertukar nomor telepon.

Mereka berkencan tiga hari setelah pertemuan itu. Enam bulan kemudian mereka menikah.

Semua berlangsung sempurna. Seperti kebanyakan kisah cinta.

Tapi itu… delapan tahun lalu.

Sekeliling Al berubah hampa. Hidupnya seperti bukan hidupnya.

Begitu asing. Begitu aneh.

Mrs. Hattie masih akan membersihkan apartemen ini setiap pagi. Interkom dan mesin penerima pesan masih akan bersuara setiap hari. Surat dan tagihan yang belum sempat Al buka, masih tertumpuk di kabinet dapur.

Begitu juga dengan barang-barang Maura. Baju-baju Maura masih tergantung rapi di lemari. CD kesukaan Maura masih tersusun rapi di ruang duduk. Sampo, sabun, pasta dan sikat gigi Maura masih tersimpan di lemari kaca kamar mandi. Bahkan susu kedelai low sugar kesukaan Maura masih ada di lemari es.

Maura seorang creative director di FairFax, sebuah agensi iklan ternama dan Al seorang manajer eksekutif strategi dan analisis pemasaran di Harvey’s, sebuah perusahaan cokelat. Mereka sama-sama bekerja keras untuk sampai pada tahap sekarang ini, membeli apartemen ini tahun lalu, dan hampir mewujudkan semua yang mereka ingini.

Kalau saja mimpi buruk tidak datang malam itu.

Yeah, it’s crazy how much everything has changed.

"Kamu mau bir, Al?"

Terdengar suara seorang laki-laki di belakangnya. Benjamin Jones—Ben, sahabatnya sejak kuliah di Universitas Chicago.

Al tidak sadar kalau Ben masih berada di apartemennya. Ia kira Ben sudah kembali ke Vancouver. Sudah setahun sejak ibunya meninggal, Ben yang memang asli Kanada, kembali ke sana untuk mengurus bisnis hotel keluarga.

Al menggeleng. “No. Thanks.”

Ben berdiri di samping sahabatnya. Sebelah tangannya terselip ke saku celana, sementara tangan yang lain memegang kaleng bir. “Kamu jadi pindah ke Seattle?”

"Ya," sahut Al, berpaling kembali menatap ke luar jendela.

"Menurutku, kamu tidak perlu memaksakan diri melanjutkan rencana itu," ujar Ben sambil menggoyang ringan kaleng bir. "Kalaupun kamu tetap ingin pindah, kenapa nggak pilih kota lain?" Lalu, dengan lebih ceria ia memberikan pilihan, "Mungkin Cheyenne atau Arlington atau ikut aku ke Vancouver?"

"Aku akan pindah ke Seattle." Al menyahuti datar tanpa mengalihkan tatapannya.

"Baiklah." Hening sesaat, lalu Ben mengikuti arah tatapan Al ke luar jendela. "Hmm… Siapa itu…" Ia mengingat-ingat. "Ellie?"

"Ella," jawab Al.

"Ah ya, Ella. Dia sudah tahu soal rencana ini?"

Al teringat perempuan itu, lantas menggeleng. “Belum,” jawabnya. “Aku akan memberitahunya nanti.”

***

#readandwrite

0 views

© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.