• sefryanakhairil

Ketika Naskah Ditolak

Updated: Oct 10, 2019


“Kak Sefry, naskahku ditolak lagi oleh penerbit (anu). Kenapa, ya? Apa aku ini nggak berbakat?”




Begitulah kira-kira isi pesan seorang pembaca. Saat membacanya, saya tersenyum, membayangkan apa yang terjadi pada diri saya saat mengalami hal yang sama. Jangan salah duga lho, ya, penulis yang telah menerbitkan karyanya, juga pernah mengalami penolakan. Bahkan, Putu Wijaya, pernah menceritakan hal serupa.

Kenapa naskah kita ditolak oleh penerbit? Alasannya bisa beragam, Dear.

Mungkin naskah kamu itu tidak sesuai dengan keinginan penerbit. Bukan berarti naskah kamu jelek lho! Misalnya begini, kamu punya cerita remaja dan kamu mengirimkannya ke penerbit yang banyak menerbitkan non fiksi Islam, pastinya kamu akan ditolak. Untuk mengatasinya, kamu bisa cek buku-buku penerbit yang kamu tuju. Dari tulisan-tulisan yang sudah terbit, kelihatan kok bagaimana gaya dan apa yang diinginkan penerbit.

Alasan lain, mungkin naskah kamu ketinggalan eranya. Misalnya, kamu punya naskah cerita perjuangan hidup seperti Laskar Pelangi, tapi ternyata sudah muncul era baru. Kalau begini, tidak berarti kamu putus asa. Coba kirimkan ke penerbit lain, siapa tahu, di sana kamu mendapat tempat.

Alasan selanjutnya, mungkin saja naskah kamu terlewat tanpa sengaja. Untuk yang ini, antisipasinya, kirimkan surat pengantar, atau buat semenarik mungkin print out kamu.

Terakhir, penerbit mempunyai penilaian tersendiri. Biasanya, editor ketika menolak akan mengirimkan catatan kok. Nah, kamu bisa memperbaiki lewat saran itu.

Bukan berarti kamu terus menangis, kan? Hidup belum berakhir, Dear. Bener deh! Usaha terus ya! Saat mulai menulis, karya saya juga berulang kali ditolak majalah. Ayah saya sempat bilang, “Mungkin Riri nggak bakat menulis.” Tapi, Ibu saya malah mendukung sekuat tenaga, “Riri pasti bisa! Kirim terus!” Dan alhamdulillah, doa saya terkabul. Tahun 2001, seorang teman, Agatha Neno—yang juga seorang penyanyi sekarang—memberitahu saya kalau sudah membaca cerpen daya di tabloid. Mulai detik itu, saya semangat menulis hingga sekarang!

Semangat!

#writingtips

© 2007-2019 by Sefryana Khairil. All rights reserved.